Saat ini kita sedang berada di tengah bulan Muharram 1448 Hijriah, bulan pertama dalam kalender Islam yang menjadi penanda tahun baru bagi umat Muslim di seluruh dunia. Meski soal tanggal pastinya sempat berbeda antara pemerintah, Muhammadiyah, dan NU, hal itu bukan yang utama untuk dibahas. Yang lebih penting justru memahami betapa besar keutamaan Muharram dan amalan apa saja yang bisa diperbanyak selama bulan mulia ini berlangsung.
Muharram termasuk salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah, sebagaimana disebutkan dalam Surah At-Taubah ayat 36:
"Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram."
Pada bulan-bulan mulia ini, amal saleh yang dikerjakan dilipatgandakan pahalanya, sementara perbuatan dosa juga memiliki bobot yang lebih berat dibanding bulan biasa. Karena itu, banyak ulama menganjurkan untuk lebih menjaga lisan dan perbuatan selama Muharram berlangsung.
Salah satu keistimewaan Muharram adalah gelarnya sebagai "Syahrullah" atau bulan Allah, sebutan istimewa yang tidak diberikan kepada bulan lain mana pun. Rasulullah SAW bersabda bahwa puasa yang paling utama setelah Ramadan adalah puasa di bulan Muharram, khususnya pada hari Tasu'a (9 Muharram) dan Asyura (10 Muharram), dengan keutamaan dapat menghapus dosa setahun sebelumnya.
Peristiwa Asyura sendiri punya sejarah panjang, diyakini sebagai hari ketika Allah menyelamatkan Nabi Musa AS dan kaumnya dari kejaran Firaun. Rasulullah SAW pun menganjurkan puasa pada hari ini sebagai bentuk syukur atas pertolongan Allah tersebut. Selain itu, ada hadis yang menganjurkan melapangkan rezeki keluarga pada hari Asyura, dengan keutamaan Allah akan melapangkan hidup orang tersebut sepanjang tahun. Karena itu pula, Muharram sering dimaknai sebagai bulan yatim, momen di mana banyak lembaga sosial menggalakkan program santunan dan berbagi kepada anak-anak yatim.
Melihat begitu besarnya keutamaan tersebut, berikut beberapa amalan yang bisa diperbanyak sepanjang bulan Muharram.
Pertama, puasa sunnah, terutama pada hari Tasu'a dan Asyura, atau bisa juga memperbanyak puasa Senin-Kamis maupun puasa sunnah lainnya sepanjang bulan ini. Kedua, memperbanyak sedekah, khususnya pada hari Asyura, sebagai bentuk syukur dan upaya melapangkan rezeki keluarga maupun sesama yang membutuhkan.
Ketiga, menyantuni dan memuliakan anak yatim, mengingat Muharram identik dengan momen berbagi kepada mereka. Bentuknya bisa berupa santunan langsung, menyalurkan donasi lewat lembaga amil zakat resmi, atau sekadar meluangkan waktu untuk hadir dan memberi perhatian kepada anak-anak yatim di sekitar kita.
Keempat, memperbanyak zikir, doa, dan istigfar sebagai bentuk muhasabah atau introspeksi diri menyambut tahun baru Hijriah. Pergantian tahun mengingatkan bahwa usia terus berkurang, sehingga menjadi momentum tepat untuk merenungi amal yang telah lalu sekaligus menata niat untuk tahun yang baru.
Kelima, membaca doa akhir dan awal tahun, yang biasa dipanjatkan menjelang dan sesudah waktu Maghrib pada malam 1 Muharram. Tradisi ini banyak diamalkan di berbagai masjid dan majelis taklim sebagai bentuk permohonan ampun atas kekhilafan tahun lalu dan harapan keberkahan di tahun mendatang.
Keenam, mempererat silaturahmi dengan keluarga dan sesama, karena momentum tahun baru sering dijadikan kesempatan untuk saling memaafkan dan memulai lembaran baru dengan hati yang lebih bersih.
Ketujuh, menghindari perbuatan maksiat dan menjaga lisan, mengingat bulan haram memiliki bobot dosa yang lebih berat dibanding bulan-bulan biasa. Momen ini bisa dimanfaatkan untuk melatih diri menahan emosi, menjaga ucapan, serta menghindari perselisihan yang tidak perlu.
Di berbagai daerah, khususnya di tanah Jawa, momentum Muharram juga berbarengan dengan tradisi malam 1 Suro yang diwarnai kirab, doa bersama, dan berbagai ritual budaya turun-temurun. Perpaduan antara nilai keislaman dan kearifan lokal ini menjadikan Muharram terasa begitu dekat dengan kehidupan masyarakat, bukan sekadar tanggal di kalender.
Pada akhirnya, esensi terbesar dari Muharram sesungguhnya adalah momentum introspeksi dan perbaikan diri. Pergantian tahun Hijriah mengingatkan bahwa waktu terus berjalan, sementara amal yang telah dan akan dikerjakan kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Maka, alangkah baiknya jika awal tahun baru Islam ini dijadikan titik balik untuk memperbaiki kualitas ibadah, mempererat silaturahmi, dan memperbanyak kepedulian terhadap sesama, sebagai bekal menyambut sisa tahun yang masih terbentang di hadapan.